banner 728x250

TPA Galuga Jadi PSEL, Pemerintah Siapkan Langkah Termasuk untuk Pemulung

banner 120x600
banner 468x60

 

Garudanewss.com Bogor Raya – Sabtu 14 feb 2026 jam 09:35.

banner 325x300

Untuk menangani ribuan ton sampah harian, proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (Pembangkit Sampah menjadi Energi Listrik/PSEL atau Waste to Energy/WtE) di TPA Galuga ditargetkan mulai groundbreaking pada awal 2026.

Transformasi TPA Galuga menjadi fasilitas PSEL memunculkan pertanyaan mengenai nasib para pemulung yang selama ini menggantungkan mata pencaharian dari aktivitas memilah sampah di lokasi tersebut.

Dampak sosial ini menjadi perhatian pemerintah.
Pemerintah Kota Bogor bersama Pemerintah Kabupaten Bogor menyatakan telah menyiapkan langkah untuk mengatasi persoalan tersebut.

Salah satunya dengan melakukan pendataan terhadap para pemulung yang ada saat ini untuk kemudian diberdayakan.

Para pemulung nantinya akan diarahkan agar tetap memiliki nilai ekonomi melalui skema baru, termasuk pemanfaatan sisa hasil pembakaran sampah.

Kajian telah dilakukan untuk membuka peluang pengelolaan residu pembakaran menjadi produk bernilai tambah, seperti batako dan pupuk.

Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, mengatakan pihaknya bersama Pemkab Bogor telah menyiapkan berbagai langkah agar PSEL di Galuga dapat segera beroperasi.

“Mulai dari administrasi lahan, perizinan yang dimiliki, sampai hasil kajian yang pernah dilakukan terkait penanganan sampah di Galuga,” ujarnya.

Menurutnya, hasil verifikasi tim PSEL dan Danantara menunjukkan adanya sinyal percepatan, terutama dalam koordinasi dengan pemilik lahan dan pemerintah kabupaten untuk menyelesaikan sejumlah aspek, termasuk perjanjian dengan warga di sekitar lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah.

Terkait penanganan pemulung, Dedie menegaskan bahwa mereka akan didata seiring dengan penyiapan lahan.

“Pemulung ini nantinya bisa memanfaatkan hasil pembakaran atau pengolahan sampah di areal PSEL,” ucapnya.

Selain itu, pemerintah juga akan meminta studi lanjutan mengenai pemanfaatan sisa pembakaran sampah agar dapat diolah menjadi produk seperti batako, pupuk, dan lainnya, sehingga tetap memberikan peluang pemberdayaan bagi masyarakat terdampak.

Teknologi WtE yang akan diterapkan disebut mampu menghasilkan sekitar 300 kWh listrik dari setiap 1 ton sampah, sehingga proyek ini diharapkan tidak hanya mengurangi beban sampah, tetapi juga menghasilkan energi sekaligus memperhatikan aspek sosial masyarakat.

Pewarta : timred

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *