Garudanewss.com – selasa27 janwari 2026.| 16.16 WIB
Menanamkan kebiasaan hidup bersih dan sehat pada anak tidak harus dilakukan dengan cara membosankan. Seorang dokter asal Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dr.
Lathifah Dzakiyyah Zulfa, menghadirkan metode edukasi kesehatan anak yang unik dan menyenangkan bernama “Si Kembar.”
Metode “Si Kembar” mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada anak-anak melalui permainan peran (role play). Anak ditempatkan sebagai “kembaran” orang tua atau guru, lalu bersama-sama menirukan kebiasaan sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa kebiasaan yang diajarkan antara lain mencuci tangan sebelum makan, memakai alas kaki saat bermain di luar rumah, memotong kuku secara rutin, hingga memilih makanan yang bersih dan matang.
“Metode ini bisa dilakukan siapa saja, baik orang tua maupun guru. Caranya dengan menempatkan anak sebagai kembaran, lalu memperagakan perilaku hidup bersih dan sehat bersama-sama,” ujar dr. Dzakiyyah.
Ia mencontohkan, sebelum makan anak diajak mempraktikkan langsung enam langkah mencuci tangan yang benar, sehingga anak tidak hanya mengetahui, tetapi juga terbiasa melakukannya.
Tak sekadar ide sederhana, metode “Si Kembar” telah melalui uji berskala nasional yang melibatkan 26 taman kanak-kanak dan lebih dari 700 anak usia 4–6 tahun dari berbagai daerah di Indonesia.
“Anak-anak belajar paling baik ketika mereka bermain dan meniru. Karena itu, kami ingin membuat pembelajaran tentang kebersihan menjadi pengalaman yang aktif dan menyenangkan,” jelasnya.
Dalam praktiknya, anak-anak juga diajak berpikir kritis. Misalnya saat membahas kebersihan setelah buang air besar, anak-anak terlebih dahulu ditanya apa yang harus dilakukan.
Setelah itu, mereka diajarkan cara cebok yang benar, yakni membersihkan dari arah depan ke belakang dan dilanjutkan dengan mencuci tangan.
Metode “Si Kembar” dikembangkan bersama 23 Fakultas Kedokteran di Indonesia, dengan dukungan Badan Analisis dan Pengembangan Ilmiah Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia serta Alicahya Foundation (Balairung Network+).
Inovasi ini bahkan telah dipresentasikan dalam forum Dokter Anak ASEAN, sebagai bentuk kontribusi tenaga medis Indonesia dalam pengembangan pendidikan kesehatan anak.
Dr. Dzakiyyah berharap metode ini dapat diterapkan lebih luas di masyarakat. “Kalau anak-anak belajar sambil bermain, pesan itu akan tertanam kuat.
Mereka tidak merasa digurui, justru bangga karena bisa melakukannya sendiri,” tuturnya.
Dengan pendekatan yang sederhana namun efektif, metode “Si Kembar” membuktikan bahwa pendidikan kesehatan anak dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan, sehingga anak tumbuh menjadi generasi yang sadar kebersihan dan peduli terhadap kesehatan diri. ***
Pewarta : timred


















