Garudanewss.com SUKABUMI – Proyek pembangunan revitalisasi SMP Islam Ciherang, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menjadi sorotan warga dan pemerhati pembangunan. Proyek bantuan pemerintah melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026 tersebut diduga menggunakan material bekas serta minim pengawasan dari pihak pelaksana kegiatan.

Berdasarkan papan informasi proyek yang terpasang di lokasi, kegiatan revitalisasi tersebut menelan anggaran sebesar Rp1.550.719.000 yang bersumber dari APBN Tahun 2026. Pengerjaan proyek dilakukan secara swakelola oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2S) dengan masa pelaksanaan selama 120 hari kerja, mulai 1 Mei hingga 31 Agustus 2026.
Namun dalam pelaksanaannya, proyek tersebut menuai berbagai keluhan. Warga dan pemantau lapangan menilai pengawasan dari pihak sekolah selaku penanggung jawab proyek sangat minim. Kepala sekolah yang juga menjadi bagian penting dalam kepanitiaan disebut sulit ditemui saat awak media mencoba melakukan konfirmasi di lokasi kegiatan.
Tidak hanya itu, upaya konfirmasi melalui sambungan telepon maupun pesan singkat juga belum mendapatkan respons dari pihak sekolah. Kondisi tersebut memunculkan tanda tanya besar terkait transparansi pelaksanaan proyek bernilai lebih dari Rp1,5 miliar tersebut.
Di lapangan, ditemukan sejumlah material pembesian berupa besi begel (sengkang) yang tampak berkarat dan diduga merupakan material lama yang digunakan kembali. Selain itu, sisa material bongkaran bangunan berupa tembok yang dihancurkan juga disebut diolah kembali untuk diambil pasirnya dan digunakan dalam pekerjaan proyek.
Kondisi itu memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kualitas bangunan yang nantinya akan digunakan oleh para siswa. Warga menilai penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi teknis dapat berdampak terhadap keamanan dan ketahanan bangunan sekolah.
“Dana yang digunakan ini uang negara dengan nilai lebih dari Rp1,5 miliar. Sangat disayangkan jika pengawasan lemah dan ada dugaan penggunaan material bekas. Ini menyangkut keselamatan siswa,” ujar salah seorang warga di sekitar lokasi yang enggan disebutkan namanya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan SMP Islam Ciherang maupun kepala sekolah belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan lemahnya pengawasan dan penggunaan material di lokasi proyek.
Masyarakat pun mendesak Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi serta aparat penegak hukum untuk segera turun ke lapangan guna melakukan monitoring dan evaluasi terhadap proyek revitalisasi tersebut agar kualitas pembangunan tetap sesuai standar dan tidak merugikan negara.
(RD)


















