banner 728x250

Kesenjangan Modal UMKM Perempuan Capai US$220 Miliar, Program IIRI Jadi Jawaban Strategis.

banner 120x600
banner 468x60

 

Garudanewss.com – Jakarta | Selasa, 13 Januari 2026, 14:02 WIB
Kesenjangan akses pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia masih menjadi tantangan besar, terutama bagi UMKM yang dipimpin dan berfokus pada perempuan.

banner 325x300

Di tengah kontribusi UMKM yang mencapai sekitar 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, celah pendanaan sektor ini diperkirakan menembus angka US$220 miliar.
Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang diluncurkannya program Impact Investment Readiness in Indonesia (IIRI) oleh Global Affairs Canada (GAC) bersama Impact Investment Exchange (IIX). Program berdurasi lima tahun ini dirancang untuk mendorong peningkatan akses pembiayaan bagi UMKM perempuan di Indonesia melalui pendekatan investasi berdampak.

Berbeda dari skema pembiayaan konvensional, IIRI tidak hanya berfokus pada penyaluran dana, tetapi juga pada penguatan kapasitas pelaku usaha. Program ini menyediakan pelatihan bisnis dan keuangan, pendampingan kesiapan investasi, serta penguatan pengukuran data dampak agar UMKM mampu memenuhi standar yang dibutuhkan investor institusional.

Selama ini, banyak UMKM tahap awal dinilai belum siap mengakses pembiayaan formal akibat lemahnya tata kelola usaha, model bisnis yang belum matang, serta minimnya pemahaman terhadap instrumen keuangan. Kondisi tersebut menyebabkan arus investasi masih terkonsentrasi di wilayah tertentu seperti Jawa dan Bali, sementara UMKM di daerah lain relatif tertinggal dalam akses permodalan.

Sekretaris Negara Kanada untuk Pembangunan Internasional, Randeep Sarai, menegaskan bahwa dukungan terhadap UMKM perempuan merupakan bagian dari komitmen Kanada dalam mendorong pembangunan yang inklusif. Menurutnya, penguatan UMKM tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berperan penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih setara dan berkelanjutan.

Sementara itu, Founder dan CEO IIX, Prof. Durreen Shahnaz, menilai kesiapan investasi sebagai kunci utama untuk membuka aliran modal yang lebih luas. Ia menekankan pentingnya membekali pelaku usaha perempuan dengan kemampuan mengelola pembiayaan serta mengukur dampak sosial agar mampu bersaing di pasar investasi nasional maupun global.

Program IIRI juga memperkuat upaya sistemik yang telah dijalankan IIX di Indonesia, termasuk kolaborasi dengan pemerintah dan regulator dalam pengembangan instrumen keuangan inklusif seperti Orange Bond dan Orange Sukuk. Inisiatif ini dinilai mampu menciptakan ekosistem pembiayaan yang lebih adil, berkelanjutan, dan berorientasi pada dampak jangka panjang.

Pewarta; timred

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *