Garudanewss.com – Senin, 19 Januari 2026 | 07.32 WIB
Pramugari asal Bogor, Esther Aprilita Sianipar, sempat menghubungi orangtuanya sebelum pesawat ATR 42-500 yang ditumpanginya dilaporkan hilang kontak dalam penerbangan rute Yogyakarta–Makassar, Sabtu (17/1/2026).
Esther mengabari ibunya bahwa ia sedang bertugas di Yogyakarta. Komunikasi terakhir terjadi pada Jumat malam (16/1/2026), sehari sebelum insiden terjadi.
“Chat terakhir hari Jumat malam. Kami masih chatting. Dia bilang dia di Jogja. Biasanya kalau sudah sampai, dia bilang ‘aku sudah di sini, Mah’,” ujar ibunda Esther, J Siburian, saat ditemui di kediamannya di kawasan Rancamaya, Desa Bojong Koneng Ciherang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.
Selain mengirim pesan, Esther juga sempat membagikan lokasi keberadaannya kepada sang ibu. Namun pada hari Sabtu, Esther sudah tidak dapat dihubungi.
Ayah Esther, Adi Sianipar, mengungkapkan putrinya tidak membalas pesan yang dikirimkannya pada hari kejadian. Padahal, ia berencana menjemput Esther untuk pulang bersama ke Bogor.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang membawa Esther bersama enam awak kabin dan tiga penumpang lainnya dilaporkan jatuh dan meledak di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Tim SAR gabungan telah menemukan satu korban dalam kondisi meninggal dunia. Jenazah korban terdeteksi berada di tebing gunung dan hingga kini masih dalam proses evakuasi.
Selain itu, Tim SAR juga menemukan ekor pesawat serta puing-puing lainnya di area puncak dan tebing Gunung Bulusaraung pada Minggu (18/1/2026).
Pencarian terhadap korban lainnya masih terus dilakukan.
Sementara itu, keluarga Esther di Bogor hanya bisa menunggu dengan harapan akan adanya keajaiban.
Pewarta : timred


















