Garudanewss.com-Usianya 34 tahun.
G4j!nya kecil.
Tapi mimpinya besar: An4k² desa tumbuh tertib dan punya masa depan lebih baik.
Ia datang paling pagi, pulang paling sore.
Mengajar dengan hati, meski profesinya jarang dihargai.
Menjelang libur, Tri hanya berpesan:
“Masuk sekolah, rambut dip0t0ng rapi. Jangan disemir.”
Buk4n soal gaya, tapi soal disiplin.
Hari masuk tiba.
Masih ada yang meL4ngg4r.
Satu an4k m4r4h dan berkata k4s4r.
Tri kaget. Refleks menepuk mulut an4k itu agar perkataan k4s4rnya berhenti.
T4k ada Luk4, t4k ada d4r4h.
Namun kisahnya berlanjut ke k4nt0r p0L!si.
Seorang Guru h0n0rer ini kini berst4tus ters4ngk4.
Jika guru t4k boleh men3gur,
t4k boleh mendisiplinkan,
lalu siapa yang membentuk karakter an4k² kita?
Tri bisa s4L4h.
Tapi ia buk4n penj4h4t.
Ia hanya guru kecil yang ingin muridnya tumbuh baik.
Ini buk4n soal rambut.
Ini soal n4sib guru dan masa depan pendidikan. 💔
Jika kamu peduli, seb4rkan.
Pewarta Timred


















